Beberapa dari kita sering mengalami kejadian unik di sekitar kita. Sebagai contoh kecil, pada suatu ketika tangan kita begitu ringan mengangkat telepon dari seseorang diseberang sana, bahkan kadang begitu ringan mengulurkan tangan memberikan bantuan kepada seseorang. Cobalah juga kita tengok, ada banyak warung makan yang dalam penyajiannya tidak begitu istimewa tetapi pengunjung begitu ramai. Ada juga sebuah bengkel di kota kelahiran saya yang saya kira biasa saja, tapi banyak orang rela motornya menginap hanya untuk mencicipi reparasi dari sang empu bengkel.
Tetapi sebaliknya, jangankan mengangkat telepon melihat panggilan dari seseorang saja dianggap sebagai masalah. Beberapa penjual sudah sedemikian menerapkan service excellence tetapi tetep saja sepi pembeli.
““klik”” begitu kira-kira kesimpulan sederhana atas fenomena diatas. Maka yang namanya ““klik”” adalah persoalan rasa. Atas dasar “klik” tersebut tangan kita begitu ringan membantu tanpa banyak berhitung, kita menerima tamu atau telepon seberapa malampun, orang tak lagi mempermasalahkan soal service. Atas dasar “klik” pula maka perbedaan yang besar menjadi kecil bahkan terabaikan. Waktu menjadi lebih simple daripada hanya untuk membuang argumen dan akhirnya tak ada hasil.
Ada banyak kebahagian, kesuksesan atas dasar “klik”. Iya, dan “klik” adalah persoalan rasa. Maka dalam organisasi besar maupun dalam perkara rumah tangga, hubungan bos dan bawahan, rekan kerja, suami istri, ortu dan anak bahkan persoalan hubungan dengan Tuhan membutuhkan “klik” sehingga hubungan tersebut menjadi positif dan mutual.
Tak ada teori yang muluk-muluk yang saya sampaikan disini, hanya saja jika setelah sekian lama rekan-rekan direkatkan oleh tali persaudaraan atas nama anggota Sosek Faperta Unibraw maka banyak diantara kita yang sering menggugat kembali arti persaudaraan ini. Ini berarti bicara nilai. Seberapa nilai persaudaraan ini sehingga menghasilkan sebuah karya. Contoh sederhana ada beberapa gerakan sosial bahkan organisasi sosial yang didirikan oleh sebuah ikatan emosional sederhana, kumpulan alumni sekolah dasar yang sama, universitas yang sama, satu alumni tempat nongkrong. Bahkan beberapa perusahaan bisnis tergerak atas dasar ini.
Dan nilai adalah kumpulan dari rasa, maka sebelum kita merumuskan nilai maka pertanyaan besar dalam diri kita adalah adakah rasa itu, jika ada, masihkah? Dan jika tak ada bagaimana membangkitkannya,..karena rasa menimbulkan “klik” yang mampu meringankan langkah kita. Tak ada harapan yang muluk-muluk atas ikatan ini,..cukuplah rasa itu masih ada, dan sehingga tatkala ada sebuah panggilan untuk sesuatu yang besar atau kecil dari sesama kita, begitu ringan kita mengulurkan tangan….Kita…semestinya…satu hati…
"Beberapa waktu yang lalu tersiar kabar bahwa Perhimpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Brawijaya (PERMASETA Unibraw) berencana mempertemukan Alumninya dalam moment HUT Organisasi tersebut pada 30 November mendatang.Kalo benar rencana itu akan dilaksanakan, berarti ini merupakan kesempatan yang kesekian kalinya setelah beberapa kali rencana serupa berjalan sekedar dalam mode seremonial semata".
Adakah ini harapan baru untuk PERMASETA baru yang lebih baik dalam mendorong kualitas mahasiswa jurusan Sosek Faperta Unibraw ?
Menginjak usianya yang menjelang 10 tahun,tantangan dan harapan besar terhadap organisasi ini mengundang konsekuensi logis akan perlunya dilakukan introspeksi dan evakuasi (penyelamatan) ulang terhadap sistem tata kelola organisasi.Hal tersebut menjadi mendesak, mengingat berbagai issue dan angin perubahan yang terjadi belakangan ini di lingkungan kampus Faperta Unibraw mereduksi organisasi mahasiswa jurusan Sosial Ekonomi Pertanian ini untuk kian kerdil terbelenggu oleh problematika internalnya semata. Peristiwa seperti, penyederhanaan program studi,misalnya. Lebih banyak dilihat oleh para aktifis organisasi sebagai problem dan bukannya dilihat sebagai solusi untuk mengembangkan sistem organisasi yang lebih ringkas,efisien,efektif,dan seirama dengan dinamika akademis.Contoh lain,adanya "travel warning" dari pihak kemahasiswaan yang membatasi space kemahasiswaan di luar kampus ; menjadi lain hal yang dianggap para aktifis sebagai bentuk baru "pengekangan" terhadap kreatifitas mereka. Dampak dari rentetan peristiwa di atas beserta penafsiran yang dilakukan aktifis dalam praktiknya saat ini cenderung mendorong dinamika organisasi meluruh ke titik nadir. Pasif dan resisten terhadap perubahan.Ujung-ujungnya, jika terus dibiarkan, maka jangan salahkan jika alumni almamater kita di masa yang akan datang bakal kian defisit akan karakter kemandirian dan keberdayaan.Itu artinya,sejarah kelam kita akan terus terulang ; kampus biru pencetak calon tenaga kerja baru yang masuk ke dalam kamp konsentrasi pasar tenaga kerja yang kian sempit dan penuh persaingan tajam.
Oleh karena itu,rencana mempertemukan alumni yang difasilitasi oleh pengurus PERMASETA di bawah kepemimpinan Sulthon Saladin patut untuk di apresiasi dan di dukung.Ini merupakan sinyal kuat adanya itikad baik pengurus untuk merekonstruksi organisasi.Namun tentunya, momentum pertemuan alumni,sejak dini haruslah dirancang secara optimal agar nantinya pertemuan tersebut benar-benar menghasilkan sesuatu yang kongkrit dan menjadi bagian dari solusi atas problematika yang menggelayuti organisasi.
Sekali lagi, jika Pengurus sungguh-sungguh merealisasikan rencananya mengumpulkan segenap potensi Alumni dalam momentum HUT organisasi.Barangkali kita bisa menabur harap akan terlahir kesepakatan (agreement) kongkrit dalam kerangka perbaikan lingkungan organisasi dan almamater kita tercinta : PERMASETA,Jurusan Sosek,Faperta Unibraw.
Sejatinya, pendidikan memiliki tujuan.Fakultas Kedokteran, misalnya.Memfasilitasi peserta didik untuk menjadi profesional di bidang kedokteran. Secara profesi,menjadi dokter yang melayani dan menjaga kualitas kesehatan masyarakat.Fakultas Ekonomi,setali tiga uang.Peserta didik yang berkecimpung didalamnya akan digembleng dengan olah ilmu ekonomi. Kelak Sarjana Ekonomi menjadi pioner dan pilar perekonomian masyarakat.ISEI,misalnya.Sebagai organisasi yang menjadi payung para Sarjana Ekonomi dikenal secara nasional dan memiliki pengaruh cukup besar dalam konstelasi kebijakan hingga level negara. Fakultas Sains (FMIPA) yang outputnya diarahkan menjadi pelopor riset dan teknologi.Menjadi mendorong kejayaan pengembangan ilmu terapan yang berguna bagi masyarakat.Demikian seterusnya,hingga tibalah tertuju kita pada:Fakultas Pertanian.
Konon,fakultas pertanian sudah sangat dikenal jauh sebelum era reformasi. Sebagai gudangnya Fakultas yang miring-miring dikit dengan khittah nama yang menjadi tujuannya.Kian waktu,dengan semakin miskinnya arahan yang berwenang (baca : pemerintah) terhadap visi pendidikan di bidang kesarjanaan pertanian maka miringnya kian jauh,kalau tidak dibilang makin berjarak dengan tujuan utama pendidikan Pertanian itu sendiri.
Logikanya, Alumni Fakultas Pertanian, ya jadi profesional di bidang pertanian.Namun dalam prakteknya,tingkat diaspora (perpencarannya)nya sungguh luar biasa.Sarjana Pertanian mengisi pundi-pundi terbesar dalam konstruksi ketenagakerjaan kita mulai sektor perbankan,industri,jasa,pendidikan,dan ...ouh kabar buruknya,Sarjana kita yang konsisten berkubang dalam primer sektor pertanian bukanlah mayoritas dari komposisi totalnya. Perlu riset lebih mendalam soal data tepatnya komposisi antara Sarjana Pertanian yang eksis di primer pertanian dengan yang terdiaspora dalam kotak non pertanian macam perbankan dan lain sebagainya. Namun dengan kian terpuruknya daya kompetisi rakyat di pasar global dimana kita nyaris compang-camping kedodoran.Menerima hujan produk murah meriah membanjiri market domestik kita.Sadarkah kita,bahwa pertanian lah salah satu benteng terakhir yang menjaga stabilitas kesejahteraan masyarakat kita ?
Atau jangan-jangan, Fakultas Pertanian memang sudah tidak lagi diperlukan ? Pertama, karena ada anggapan, buat apa sekolah tinggi kalau ujung2nya cuma balik kerja jadi petani yang berkotor-kotor dengan tanah ? Atau anggapan Kedua,..gak ada lowongan bidang pertanian yang capable buat saya ? Atau lebih parah lagi,yang ketiga,..bisa diterima kerja aja dah syukur ? Oups.
Ini ironi buat kita semua wahai Sarjana Pertanian khususnya.. Sosektaers Unibraw. Jangan sampai terus terulang.. "ada tikus mati di lumbung padi"... Sarjana Pertanian menganggur di tengah negeri agraris nan gemah ripah loh jinawi...
Sekali lagi pertanyaannya : "Masih Perlukah Ada Fakultas Pertanian ????
SEGENAP KELUARGA BESAR BLOG SOSEKTAERS UNIBRAW MENYAMPAIKAN BELASUNGKAWA YANG SEDALAM-DALAMNYA ATAS WAFATNYA AYAHANDA TERCINTA DARI BANG RACHMAN ADI SAPUTRA (OWNERS BLOG SOSEKTAERS,ALUMNI-SOSEKTAERS ANGKATAN 96) PADA HARI RABU, 09 SEPTEMBER 2009 DI BALIKPAPAN KALIMANTAN TIMUR. SEMOGA ALMARHUM DI TERIMA DI SISI ALLAH SWT DAN BANG RACHMAN BESERTA KELUARGA BESAR YANG DITINGGALKAN DIBERIKAN KEKUATAN IMAN DAN TAKWA
AMIEN. SALAM HORMAT ADMIN BLOG SOSEKTAERS UNIBRAW LUQMAN SETIAWAN & FRIENDS
sobat, Pernahkah anda di hadapkan dalam sebuah posisi sulit?Dimana anda dihadapkan dengan masalah yang sangat kecil sekali menyelesaikannya? Saya yakin pasti kita semua pernah menghadapinya. namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita menghadapi permasalan tersebut. Ada dua jawaban dalam hal ini. Pertama, anda memilih untuk meninggalkan masalah tersebut karena mungkin saja anda merasa ragu atau merasa tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut.. Kedua, anda memilih untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab. Yang menjadi bahasan saya kali ini adalah tindakan yang kedua, yaitu bagaimana menyelesaikan masalah tersebut. Sobat, kita terlahir sebagai pemenang.mengapa saya katakan spt ini.karena kelahiran kita dari rahim ibu kita bermula dari kompetisi dasyat dari beribu ribu sel sperma, hingga tinggal satu saja sperma yang unggul dan berkualitas untuk membuahi sel telur, dan lahirnya kita. Berarti dr lahir kita suudah memiliki mental pemenang.benar?
Menyelesaikan masalah ternyata tidak juga sulit dan tidak juga mudah. Semua itu tergantung dari kita melihat persoalan itu sendiri.bila kita melihat pesoalan tersebut sulit dan banyak tenaga untuk menghasilkannya,maka akan demikian pula juga yang akan kita hadapi,
Tapi,bila kita melihat dari kaca mata lain, yaitu bila persoalan itu mudah diselesaikan walaupun sangat rumit,, maka hal itu pula yang kita hadapi.
Sobat,, yang lebih penting dari itu pula yaitu bagaimana kita berfikir,bersikap secara positif dan tanpa emosi menyelesaikan masalah itu. Rasa positif sangat diperlukan dalam hal ini.kita perlu memberikan rasa positif pada diri kita, sehingga kita dapat memandang persoalan itu sebagai hal positif bukan sebagai hambatan.semakin positif kita,maka semakin mudah pula kita menghadapinya.
Yang terakhir adalah tanpa emosi atau tenang.ini juga salah satu kunci penting. Dengan menyelesaikan masalah tanpa emosi dan tenang, maka semua persoalan akan semakin mudah diselesaikan,kita tidak akan bertindak dengan kepala panas menghadapi masalah.karena emosi bisa membuat semua semakin kacau dan rumit. Jadi tidak emosi alias tenang menjadi kunci. Anda setuju dengan saya?
Tri wahyuni'98 Note : tulisan ini ditulis disela waktu istirahat ngikutin traning sama suami di banjarmasin. Dan tulisan ini terinspirasi dari salah satu pengalaman yang saya hadapi saat bersamaan dgn masa traning Ya
Pada tulisan saya terdahulu tentang The Flying Geese sebuah teori yang dikemukakan Saburo Okita (Jepang) yang menggambarkan formasi kepemimpinan ekonomi dan teknologi di kawasan Asia dimana Jepang dan Cina berada dalan barisan depan , sementara Indonesia berada pada bagian ekor, kembali mengingatkan saya akan relevansi teori itu dalam kondisi global dan regional akhir-akhir ini. Kasus mahasiswa Indonesia David Hartanto di Singapura, Manohara, Siti Hajar dan ratusan kasus penaniayaan TKW hingga kasus Amabalat yang kembali memanas seolah menjadi penanda bahwa tak ada yag perlu ditakuti dengan negara dengan nama Indonesia. Seolah siapa saja maupun negara mana saja berhak atas perlakuan yang tidak layak terhadap Indonesia lengkap dengan penduduknya.
Sudah sejak lama sekali rasanya bangsa ini tak bicara banyak dalam konteks hubungan bangsa-bangsa di dunia. Kawan tentu ingat bahwa torehan emas bangsa ini di level internasional belum kering, tentang bagaimana bangsa ini ikut menjadi pemrakasa Konferensi Asia Afrika, kemudian menjadi motor Gerakan Non Blok, aktif dalam OPEC dan masih banyak lagi peran kita dalam upaya perdamaian dunia. Pada level ini bukanlah hanya semata unjuk gigi, sekedar gagah-gagahan sementara secara internal bangsa ini rapuh tetapi lebih dari sekedar itu, sebagai sebuah bangsa yang berdaulat pengakuan dan penghargaan sebagai sebuah bangsa layak kita terima. Sehingga dalam upaya pelaksanaan peran aktif kita dalam level global maupun dalam konteks hubungan perekonomian dunia menjadikan kita sebagai bangsa yang sejajar dengan bangsa lain. Bukan sebagai negara inferior yang boleh saja diperas sumber daya alam dan manusianya karena kita tak layak sejajar dengan bangsa lain. Maka sama saja ini merupakan penjajahan era baru.
Segelintir orang berpendapat bahwa kondisi kekinian internal bangsa ini jauh lebih penting dari segala hal yang berkaitan dengan dunia luar. Picik sekali bagi saya mereka ini, mereka seolah mencoba melenakan dengan mengingatkan betapa menyedihkannya bangsa ini, angka kemiskinan tinggi, masyarakat hidup serba sulit, cukup sudahlah bangsa ini menderita, jadi buat apa berfikir tentang poisisi kita di kawasan regional dan global. Tak perlulah kita berpusing-pusing dengan segala persoalan bangsa lain. Sebuah pertanyaan sederhana coba kita kemukakan kepada mereka, bagaimana mengharapkan respek bangsa lain sementara kita cuek dengan bangsa lain.
Saya bukan ahli hubungan internasional, tetapi dalam konteks kekinian yang semakin mengglobal maka mengatur dan menempatkan bangsa ini dalam formasi regional maupun global amat sangat penting. Karena sumber daya bangsa ini baik berupa alam maupun manusia telah menyebar ke seluruh bangsa-bangsa di dunia. Bagaimana bisa kita membangun internal bangsa ini sementara gangguan dari luar senantiasa mengintai bangsa ini. Dan paling penting adalah bagaimana mengamankan dan melindungi sumber daya alam dan manusia kita di dalam maupun di luar negeri. Setiap jengkal kedaulatan tanah, air dan segala yang terkandung di dalamnya bisa saja tergerus oleh bangsa asing, setiap darah dan air mata tertumpahkan oleh pahlawan-pahlawan devisa kita di negeri seberang, bagaimana bisa dikatakan sebagai sebuah negara yang besar dan berdaulat sementara tanah, air, darah terenggut dan air mata ibu pertiwi senantiasa tertumpah, hanya karena tak ada yang memiliki respek terhadap kita.
Bangsa ini memilki modal sosial yang sangat besar, jauh bahkan lebih besar dari negara-negara Eropa Barat yang saat ini berada dalam puncak kemakmuran ekonomi. Coba tengok saja kekayaan alam berlimpah, sumber daya manusia luar biasa, belum lagi sistem sosial yang amat dahsyat, gotong royong, kekeluargaan, nilai spiritualitas yang tinggi berpadu dengan budaya khas yang unik. Bangsa ini memiliki potensi menjadi bangsa besar yang sejahtera dan berkemakmuran. Tak ada alasan sebenarnya bangsa ini tumbuh kerdil, kelaparan dalam lumbung padi di bawahnya, merasa silau dengan gemerlap bangsa lain sementara kita berdiri di atas gunung emas.
Sebagai layaknya sebuah bantera maka bangsa ini membutuhkan seorang nahkoda dengan jiwa kepemimpinan yang kuat. Tahu kemana bangsa ini akan mengarungi samudera, menjadi sebuah negara berwibawa dan membawa kemakmuran bagi rakyatnya. Kita memimpikan para pemimpin kita seperti para generasi pertama bangsa ini, yang dalam hati dan tindakannya senantiasa untuk melayani bangsa ini. Saya tahu pasti banyak orang mencibir nilai sebuah idealism di tengah budaya hedonism dan populis. Idealisme menjadi tontonan yang aneh. Tapi yang lebih menyedihkan adalah kita menuntut para pemimpin kita untuk berlaku ideal, bersih dan berwibawa sementara kita bertingkah seperti orang yang telah kehilangan jiwa kita, mayat berjalan yang rakus. Dan dalam sebuah bahtera bagaimana pemimpin kita telah menjadi sososk nahkoda dan asistennya lengkap dengan karakter, hati, dan tindakannya yang berusaha membawa bahtera ini selamat , sementara kita sebagai penumpang berlaku tak bijak membuat onar dan membahayakan keselamatan bantera. Apa jadinya?
Sekali lagi saya bukan pengagum demokrasi tetapi sebagian besar rakyat telah memilih jalan demokrasi untuk saya dan anda yang tidak mengagumi demokrasi, untuk itulah demokrasi kita terima sebagai jalan yang harus dilalui. Semua perangkat demokrasi harus kita terima sebagai bagian dalam menentukan arah bangsa ini. Maka momen pemilihan presiden yang akan berlangsung besik Juli adalah syarat yang harus dilakoni dalam ritual pemilihan pemimpin guna kepentingan keberlanjutan bangsa ini. Konsekuensi biaya yang muncul adalah sangat logis, karena momen pemilihan pemimpin dalam negara demokrasi adalah sama pentingnya dengan kebutuhan akan makan. Kita tidak perlu iri dengan negara penganut monarki atau kerajaan dimana penentuan pemimpin telah diwariskan, lebih irit dan cepat. Dan dengan menerima itu adalah langkah awal menjadi dewasa dalam bernegara dan bersiaplah untuk menjadi besar. Manfaatkan momen pilpres sebagai ajang pemilihan pemimpin yang mampu membawa kejayaan bangsa ini..
Mengembalikan kewibawaan bangsa ini sebagai negara yang berdaulat sebagaiman amanat konstitusi, adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki calon pemimpin bangsa ini di masa datang. Sementara bangsa ini berbenah membawa kemakmuran bagi rakyatnya, bangsa ini perlu tumbuh menjadi bangsa besar yang mampu menjaga, melindungi segenap tanah, air, udara dan nyawa penduduknya dari ancaman dari luar. Karena kita berhak…