Ayo gabung Neobux ! anda dibayar untuk tiap iklan yang anda klik

Rabu, 02 Februari 2011

Menjadi Korban 30 Tahun-an, Mau...? (Renungan buat kita yang masih dijajah oleh pekerjaan)

Pengantar :
Ternyata ada satu kesamaan yg unik antara gejolak di Mesir yang terjadi saat ini, dengan Reformasi 1998 di Indonesia dan masa kerja kita menuju masa pensiun. Kesamaan sederhananya adalah, bahwa keberanian untuk "memerdekakan" diri ternyata umumnya dilingkungan kita membutuhkan waktu 30 tahun.Akankah kita terjajah dalam kerangkeng dunia kerja selama 30 tahun juga ?

Nah, dalam konteks di atas itulah, maka dalam kesempatan ini saya mohon ijin untuk menampilkan tulisan utuh dari Bpk.Muhaimin Iqbal berjudul "Menjadi Korban 30 Tahun-an, Mau...?" sumber asli dari tulisan ini saya dapatkan dari
Semoga dengan ditampilkannya tulisan ini di blog kita tercinta dapat membuat kita belajar bersama dan memiliki persiapan diri yang lebih baik daripada generasi pekerja yang terdahulu.
Berikut tulisan lengkapnya, selamat menikmati.
Salam, Luqman (Sosektaers Unibraw,1996)

==============
Menjadi Korban 30 Tahun-an, Mau...? PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal
Rabu, 02 February 2011 07:14

Hari-hari ini Mesir bergolak karena rakyat sudah tidak tahan lagi dengan tirani 30 tahun yang mereka derita dalam rezim Hosni Mubarak. Mereka mungkin belajar dari Indonesia tahun 1998 – ketika kita waktu itu mengalami hal yang serupa untuk periode rezim yang kurang lebih juga mirip yaitu 32 tahun. Pertanyaannya adalah mengapa baru setelah 30 tahun-an orang berani melakukan perubahan ?. Inilah yang terjadi di kita pada umumnya, kita hidup bersama gajah di ruang tamu kita – tetapi kita enggan untuk mengusirnya.



Bukan hanya rakyat Indonesia atupun rakyat Mesir, tidak sedikit pekerja yang merasa tertekan dan terjajah dalam pekerjaannya – tetapi sebagian besar mereka baru bisa memerdekakan diri juga setelah 30 tahunan – yaitu setelah pensiun. Bila Anda mulai bekerja pada usia 23 tahun dan pensiun pada usia 55 tahun, maka Anda bekerja selama 32 tahun – setara dengan satu rezimnya Orde baru atau rezimnya Mubarak !. Maka alangkah sayangnya bila di usia terbaik Anda tersebut – Anda tidak merdeka untuk berbuat yang terbaik menurut Anda sendiri.



Lantas apa faktornya yang membuat orang harus menunggu 30 tahun-an untuk bisa ‘merdeka’ ?. Pertama tidak banyak yang punya keberanian, di Indonesia misalnya sudah ada gerakan mahasiswa yang berani menentang pemerintah sejak tahun 70-an ; tetapi jumlah mereka saat itu kurang banyak sehingga mudah ditumpas.



Kedua karena tidak banyaknya dukungan, keberhasilan gerakan mahasiswa tahun 1998 adalah juga karena banyaknya dukungan masyarakat luas dan para tokoh-tokoh masyarakat. Saya ingat saat itu bahkan ada seorang ibu yang setiap hari membungkusi nasi untuk dikirim ke anak-anaknya dan temen-temen anaknya yang berhari-hari demo di Senayan. Hal ini tidak terjadi di tahun 1970-an.



Ketiga adalah karena complacency – orang merasa puas dengan apa yang ada sehingga enggan melakukan perubahan. Orang-orang yang merasa diuntungkan dengan adanya rezim yang ada baik di Indonesia sampai tahun 1998, mupun di Mesir sampai sekarang – tentu mereka tidak senang dengan arah perubahan yang ada – dan mereka inilah yang menjadi penghalang atas upaya perubahan itu.



Tiga faktor keberanian, dukungan dan complacency tersebut ternyata juga menjadi penyebab yang sama seseorang bisa ‘terjajah’ dalam pekerjaannya selama 30 tahunan sampai pensiun.



Banyak sekali pekerja yang tidak nyaman dengan pekerjaannya, tertekan karena harus melaksanakan sesuatu yang tidak sejalan dengan hatinya – tetapi sebagian besarnya tidak cukup keberanian untuk melakukan perubahan, baik secara internal di dalam lingkungan tempat bekerja ataupun melompat keluar dan menciptakan pekerjaannya sendiri. Dalam sebuah seminar di Surabaya baru-baru ini, teman pembicara saya dengan semangat ber-api-api menyerukan ditinggalkannya riba – tetapi tanpa sadar dia sendiri masih bekerja di institusi yang ‘mbah’-nya riba dan belum cukup keberanian untuk meninggalkan institusi tersebut.



Lingkungan dekat juga tidak selalu mendukung karena istri , anak-anak, apalagi orang tua dan para mertua Anda – mungkin akan menjadi penentang pertama ketika Anda mengutarakan niat keluar dari pekerjaan untuk berwiraswasta. Bagi orang-orang generasi orang tua kita dan generasi para mertua kita – yang masih terimbas pengaruh feodalisme, menjadi priyayi atau pegawai adalah pekerjaan yang terbaik menurut mereka. Mereka akan cenderung enggan memberikan dukungan pada anak dan menantunya untuk mulai merintis usahanya sendiri.



Penyebab ketiga Complacency umumnya diderita para pekerja yang sudah mapan, karena umumnya untuk mereka ini semua biaya ditanggung perusahaan, semua urusan ada yang membereskan – maka mengapa mau bercapek-capek mulai segala sesuatunya dari nol ?.



Bulan pertama saya berwiraswasta misalnya adalah bulan yang sangat kacau, saya bahkan tidak tahu membayar telepon, air, listrik kemana. Ini karena selama lima belas tahun semua diurusi oleh kantor tempat saya bekerja. Belum lagi masalah kesehatan , pajak, asuransi dlsb. tiba-tiba menjadi urusan sendiri – yang selama ini tidak pernah mengurusnya.



Terlepas dari berbagai permasalahan tersebut, saya bersyukur bisa ‘memerdekakan’ diri lebih cepat dari temen-temen seangkatan kerja saya. Saya tidak harus menunggu 30-an tahun bekerja sampai pensiun – baru merdeka dari pekerjaan-pekerjaan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan hati saya.



Jadi masihkah Anda akan menunggu sampai usia pensiun untuk bisa ‘merdeka’ dan memulai berkarya di perusahaan Anda sendiri – yang bisa jadi ada di cita-cita Anda sedari muda ?. Kini mungkin waktu yang tepat untuk Anda mulai memikirkannya secara serius. Berpikirlah seperti rakyat Indonesia tahun 1998 dan rakyat Mesir sekarang, bahwa kita bisa ‘merdeka’ sekarang !. InsyaAllah.

=======================


noted :
Buat teman2 Sosektaers yang ingin diskusi banyak perihal investasi Emas secara umum dan investasi Dinar Emas secara khusus berikut teknikal dan strateginya, temans bisa sharing ke saya via media komunikasi yang tersedia dengan mengklik ---> contact

Kamis, 20 Januari 2011

Akhirnya terungkap, mengapa kita harus mengamankan tabungan dlm bentuk emas


Dear Temen2 Sosektaers, untuk mengisi kekosongan blog kita tercinta ini, berikut saya sajikan tulisan dari milis sebelah yang ditulis oleh Bpk.Endy Junaedy Kurniawan salah seorang praktisi investasi Dinar Emas di Indonesia.

untuk mendapatkan akses informasi terkait dinar emas, teman2 bisa kunjungi lapak online distribusi dinar emas milik saya dengan mengklik link di Forum Jual Beli Kaskus
atau bisa menghubungi saya via chatting ym dengan mengklik icon YM "hansip" disamping kanan.
Atau menghubungi kontak saya dengan mengklik-->contact

Ok,temans..berikut tulisannya :)
Salam, Luqman Setiawan (Sosektaers'96)

ANCAMAN DEINDUSTRIALISASI : AYAM (JANGAN) MATI DI LUMBUNG PADI

Written by Endy Junaedy Kurniawan


Assalamualaikum

Saya sering menerima masukan bernada kritik bahwa menyimpan emas termasuk kategori menimbun harta, sementara menimbun harta itu dilarang karena membuat harta tak beredar untuk menggerakkan ekonomi, dan ujungnya dikhawatirkan memiskinkan sebagian masyarakat. Islam melarang penimbunan harta, tidak ada keraguan.

Jawaban awal yang bisa dikedepakan untuk hal ini sebenarnya adalah adanya perintah zakat, anjuran infaq, shadaqah dan wakaf harta. Islam mengatur ini karena pasti selalu ada bagian harta kita, atau selalu ada sebagian masyarakat, yang mendiamkan hartanya. Maka zakat, infaq, shadaqah, wakaf (juga qardun hasan/pinjaman baik – pinjaman tanpa imbal hasil apapun, dan semata-mata untuk tujuan menggerakkan ekonomi masyarakat) adalah semacam ‘flushing’ di peredaran darah ekonomi, agar harta macet di simpul arteri bisa berjalan kembali.

Dengan mekanisme ini, ekonomi menjadi seimbang kembali, dan pihak-pihak hepi. Terangkat derajat dan kesejahteraannya bersama. Selalu ada gap antara yang miskin dan yang kaya, tapi jaraknya tipis saja. Pada jaman Umar ibn Khattab dan Umar bin Abdul Aziz tercatat, level ekonomi terbawah terkikis habis, sehingga sulit salurkan zakat, bukan karena tak ada muzakki, tapi justru tak ada mustahik. Level ekonomi menengah tetap ada, tapi mereka bukan objek penerima zakat dan jaminan negara. Sehingga di masyarakat, bagian piramida terbawah hilang. Jumlah terbesar ada di level menengah, dan sebagian kecil di level atas.

Bandingkan dengan fakta yang ada di masyarakat sekarang. Menurut Ust. Dr. Irfan Syauqi Beik, potensi zakat Indonesia Rp 100 Trilyun per tahun (dunia : Rp 6 ribu Trilyun), baru terkumpul 1,5% - nya atau hanya Rp 1,5 Trilyun. Angka ini jelas belum mampu menjadi solusi kemiskinan dan pengembangan taraf kehidupan separuh lebih penduduk negeri ini yang berada di bawah garis kemiskinan. Hasil litbang Kompas yang dikutip geraidinar.com menyebutkan penduduk miskin dengan pengeluaran USD 2 – 4 per hari berjumlah 59,24% atau 146,3 juta jiwa. Ini mendekati angka World Bank yang menyebut angka 170 juta jiwa, dan 3 kali lipat lebih dibandingkan angka versi pemerintah yang meng-klaim ‘hanya’ 30 juta penduduk miskin.

Apakah memang menyimpan emas termasuk menimbun harta? Jika kewajiban ziswaf ditunaikan dan menjadi kesadaran kolektif sehingga potensi sebesar Rp 100 Trilyun per tahun di negeri ini benar-benar dapat digalang, menurut saya tidak ada celah untuk saling menyalahkan. Itu baru tentang zakat, PR pertama kita.

Ada hal lain, seringkali muncul desakan pertanyaan berikutnya : “Harta masyarakat harus lebih banyak mengalir lewat lembaga keuangan dan perbankan, agar ekonomi bisa bergerak lebih cepat. Jika menyimpan emas, ini tak terjadi.”

Saya harus tanya balik untuk memastikan yang bertanya tahu keterhubungan langsung jumlah dana yang kita tabung dengan produktivitas ekonomi. Jika kita menabung atau menyimpan sejumlah uang di bank, berapa dari jumlah itu yang akan mengalir untuk membiayai roda ekonomi sehingga menyebabkan pertumbuhan?

Sekitar 10%-15% jika Anda tabung di bank konvensional.
Atau mencapai 70% jika Anda tabung di bank syariah.

Saya mesti bilang Anda yang menyimpan uang jutaan bahkan milyaran rupiah di bank-bank konvensional sebagai orang yang dzalim yang merugi, apalagi jika tak keluarkan zakatnya. Dzalim karena uang itu kecil sekali yang menetes ke level ekonomi di bawah untuk jadi modal usaha dan lainnya, dan inilah sebenarnya hakikat menimbun harta. Rugi karena return-nya tak memadai, kalah dari laju inflasi : naik 6% - 8% per tahun saja, melawan inflasi yang mencapai rata-rata 10% (6% inflasi umum dan 12% inflasi kebutuhan pokok). Berdosa pula karena tak tunaikan zakat. Lebih-lebih tak barakah (bertambah) karena tak keluarkan shadaqah.

(Untuk diketahui, masyarakat kita juga masih ‘tak adil’ dalam berzakat. Mereka sibuk bertanya nishab-haul zakat hanya ketika simpanannya emas, padahal tabungan, deposito dan simpanan lainnya di bank juga adalah objek zakat)

95% dari total uang beredar di muka bumi digulirkan, digandakan segelintir pihak, menciptakan gelembung uang yang semu di sektor keuangan, bukan di sektor riil yang berarti memperbesar produksi untuk mengimbangi konsumsi.

Maka sebetulnya sungguh aneh, di tengah melesatnya IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan), mengalirnya Hot Money dari luar Indonesia ke bursa semenjak pertengahan 2010, kemudahan memperoleh kredit (konsumtif) di tengah masyarakat, Indonesia sendiri terancam de-industrialisasi. Sinyal kekhawatiran ini dikirim sendiri oleh Bank Indonesia, berikut dampaknya : turunnya nilai tambah industri nasional, tergerusnya aktivitas perekonomian, pengangguran dan kemiskinan.

Banyak sekali fakta negatif diluar sana. Bayangkan, non-productive loan, semacam kredit usaha yang telah disetujui, parkir sebesar puluhan trilyun di bank. Ini terjadi juga di banyak negara, terutama Amerika. Kredit itu seharusnya mengalir menjadi tambahan modal di sektor industri untuk menggerakkan ekonomi, tapi tak jadi, karena kekhawatiran akan resiko usaha, dan penerima kredit merasa lebih untung dan pasti mendapatkan keuntungan (berupa bunga) dengan cara membuat dana itu parkir di bank. Atau di-investasikan di sektor keuangan, bukan di sektor riil.

Di sisi lain, pengusaha kecil sulit sekali mendapatkan dana pinjaman. Padahal mereka sangat membutuhkannya untuk perluasan usaha, ekstensifikasi market dan penambahan tenaga kerja. Melihat dua fakta diatas, sungguh tak adil. Situasi ini disebabkan oleh rendahnya dukungan sektor perbankan dalam pemberian kredit ke sektor industri. Fokus mereka masih di sektor jasa keuangan, yang tak berhubungan langsung dengan penyerapan tenaga kerja dan tersedianya produk yang murah di pasar.

Selama 2010, pertumbuhan industri hanya 4%, tertinggal dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6%. Angka pengangguran bertambah. Di pasar, pelaku usaha lebih mudah dan murah memperdagangkan barang impor (terutama dari Cina) daripada memperjualbelikan hasil industri dalam negeri yang justru lebih mahal dan tak terjangkau harganya oleh pembeli. Cina dan India, dua negara yang sama potensinya (persentase kapasitas tersimpan) dengan Indonesia dalam hal sumber daya manusia/tenaga kerja adalah dua negara yang mampu menyeimbangkan kemampuan produksinya daya beli pasar. Sementara Indonesia, seperti diakui Menkeu pada awal dilantiknya, 70% aktivitas ekonominya digerakkan oleh sektor konsumsi.

Maka sebetulnya persoalan tak sesederhana ketika kita melontarkan ‘tuduhan’ bahwa menyimpan emas berarti telah menginisiasi mandeg-nya perekonomian.

Kesadaran ber-zakat, infaq dan shadaqah masyarakat masih sangat rendah (meski terus meningkat tiap waktu), di sisi lain kebijakan perbankan yang tak mendukung sektor riil, adalah dua sebab yang paling sistemik menyebabkan banyak persoalan ekonomi.

Masyarakat punya logika dan pertimbangan sendiri ketika memutuskan apakah menyimpan emas ataukah tabungan untuk keperluan penyelamatan asset pribadi.

Mereka akan memilih yang terbaik dari sisi proteksi untuk melindungi simpanan dari ancaman inflasi. Mereka memerlukan simpanan yang melindungi Rupiah yang setiap saat bisa tak bernilai karena dibenamkan depresiasi nilainya terhadap mata uang asing. Mereka mementingkan likuiditas (kemudahan dalam mencairkan ketika memerlukan dana tunai) saat ada kebutuhan mendadak ataupun perlu tambahan modal usaha.

Semua jawabannya ada pada simpanan emas. Bukan simpanan di produk perbankan.

===================================================================
noted :
Buat teman2 Sosektaers yang ingin diskusi banyak perihal investasi Emas secara umum dan investasi Dinar Emas secara khusus berikut teknikal dan strateginya, temans bisa sharing ke saya via media komunikasi yang tersedia dengan mengklik ---> contact

Rabu, 05 Januari 2011

The REAL DIAMOND

Sering kita denger, ungkapan DIAMOND is DIAMOND

Diamond ato berlian adlh barang berharga, bernilai tinggi,....dmnpun dia berada, sekalipun di dasar bumi, dasar lautan bahkan dicomberan sekalipun, ketika dia diangkat tetaplah diamond

Itulah kualitas pribadi kita, kl kita pribadi yg berkualitas, dlm arti kompetensi kita tinggi, attitude kita terjaga, mk dmnpun lingkungn.kita, seburuk apapun itu, kita tetaplah pribadi yg mengesankan,..spt layaknya diamond,..mk setiap org layak dan hrs berlomba2 menjadi pribadi yg berkualitas,..

Tp sadarkah kita bhw berlian yg bernilai tinggi itu ada krn kerja keras penambang yg menemukannya, diolah oleh para pekerja pabrik dan diberi sentuhan seni oleh para perancang bercita rasa tinggi,..hingga sampe pada para penikmat seni lewat para pemasar dan tersimpan elegan dlm ruangan terhormat

Itulah kita kawan, pribadi kita yg berkualitas tdk akan berguna tanpa sentuhan tangan dan pribadi yg hebat,....

Siapakah mereka??merekalah org tua kita yg melahirkan kita ke dunia, merekalah guru2 kita, keluarga, saudara kita, sahabat kita, rekan2 kita dmnpun itu, sekolah kita dulu, lingkungan rumah kita dan tempat kerja kita...merekalah yg tiada henti mengasah dan memberi nilai pd pribadi kita,....

Tanpa mereka kita tetaplah diamond yg ada di dasar bumi

Maka berterima kasihlah pd mereka, sayangi, hormati mereka, jaga martabatnya dan bantulah mereka dan jadilah THE REAL DIAMOND

Ahmadi Addy (BoY)

Kamis, 30 Desember 2010

Siapa bilang saya tidak nasionalis??

Menggelitik rupanya bagi seorang Panji, pemuda kelahiran sebuah desa di ujung Pulau Jawa bagian timur ketika dia mendengar seorang anak kecil bertanya kepadanya “Wasior itu Indonesia??”. Ya dengan adanya televisi yang menjangkau wilayah pedesaan maka seperti kita memiliki kaca pembesar yang mampu memperlihatkan kepada kita, hal-hal yang semula tersembunyi.

Banyak penjelajahan yang dilakukan oleh industri media ini hingga ke pelosok tanah air, sehingga semakin membuka wacana kita bahwa nusantara ini begitu luasnya. Tentunya semakin luas wilayah maka semakin kaya akan potensi yang dimilikinya. Entah siapa yang paling bertanggung jawab atas pemersatuan nusantara ini, Gajahmada, mahapatih Majapahit yang melakukan penaklukan nusantara lewat Sumpah Palapa atau bangsa Belanda yang mampu diangkat oleh para pendiri bangsa sebagai musuh bersama yang membangkitkan semangat kebersamaan.

Kita patut berbangga pada generasi tua kita yang telah berjasa menyatukan nusantara dari daratan Aceh hingga Tanah Papua. Ada ratusan suku, ribuan bahasa dan jutan species yang numpang hidup di ibu pertiwi ini. Tak mudah jalan yang mereka tempuh untuk membangun negeri ini. Hanya orang2 yang memiliki visi dan kegilaan yang luar biasa yang mampu melakukannya,…

Sebagai seorang pemuda yang lahir pada masa kini, Panji dibesarkan oleh penuturan sejarah bangsa ini dari orang tuanya, guru dan buku-buku karena memang dia bukan pelaku sejarah awal perjuangan bangsa ini. Maka sebagaimana pemuda yang lain, dia masih agak bingung dengan rasa nasioanalisme. Ini soal rasa bukan sekedar kata-kata bahwa saya cinta tanah air. Seperti tak ada yang menuntut bahwa Panji harus mencintai Indonesia, sebagaimana kekasih Panji yang sedang berada di kota lain yang selalu menuntut Panji untuk mencintainya dan setia padanya. Karena adanya tuntutan itulah yang senantiasa diucapkan berkali-kali dan adanya rasa yang sebaliknya maka cinta itu tumbuh subur kian hari. Ya itulah itulah Panji, tiba2 angannya melayang2 karena pertanyaan anak kecil tadi, memikirkan betapa luasnya Indonesia dan betapa susahnya perjuangan para pendahulunya,..Hingga dia membuat kesimpulan kalau bukan cinta yang menggerakkan mereka untuk berjuang, apalagi??

Tak ada yang menuntutnya untuk mencintai bangsa ini, dia terlahir begitu saja, kemudian tumbuh menjadi anak2, bermain, belajar kemudian tumbuh dewasa dan menyukai lawan jenis, sekarang Panji telah lulus kuliah, bekerja di sebuah perusahaan bagus, memiliki seorang kekasih yang siap dinikahi. Hidup yang menyenangkan rupanya. Tak ada yang salah, Panji dulu juga aktif di organisasi kemahasiswaan, sering ikut kegiatan, dan sebagai pemeluk Islam yang baik, dia menjalankan ajaran agamanya semampunya dengan penuh kegigihan, termasuk di dalamnya berinfaq dan membayar zakat sebagai kewajibannya. Dan membayar pajak tentunya lewat perusahaannya,…hehehe.

Hingga pertanyaan menggelitik hatinya, apakah saya ini orang yang mencintai Indonesia, kalau iya, apa buktinya?? Sering waktu kecil dulu, berulang kali dalam pelajaran sejarah, gurunya mengatakan perkara cinta tanah air, hingga ketika kuliah sering mendengar kata nasionalisme,…Tapi Panji-pun sampe saat ini belum bisa menjawab pertanyaan seberapa nasionalis-kah dirinya. Walau begitu kadang darahnya sempat naik ketika pernah ikut berdemontrasi kala mahasiswa dikatakan sebagai mahasiswa yang tidak memiliki rasa nasionalisme. Siapa bilang saya tidak nasionalis??

Pertanyaan yang bagi Panji kadang muncul ditengah derita bangsa ini karena bencana alam yang seolah tidak mau pergi, pengkhianatan oleh anak2 bangsa ini, darah saudara kita yang tertumpah di negeri orang, dan lain banyak hal yang bangsa ini membutuhkan kegigihan anak2 bangsa untuk kembali memperoleh kejayaan dan kesejahteraan sebagaimana para pendahulunya merebut kemerdekaan bangsa ini.

Sebuah pertanyaan besar untuk seorang biasa, Panji serta jutaan pemuda termasuk kita yang mungkin saja bernasib lebih baik atau tidak lebih baik dari Panji.

A Addy Saputra (Boy)



Selasa, 16 November 2010

Ketika Presiden Amerika Menggantikan Bonanza..

Pengantar :

Posting ini adalah salinan utuh dari tulisan Bpk.Muhaimin Iqbal di geraidinar.com , praktisi ekonomi syariah,blogger,dan tinggal di Depok.Dalam posting ini, semoga kita dapat mengambil manfaatnya terkait dengan kebijakan ekonomi Amerika.

Salam,
Luqman Setiawan

Ketika Presiden Amerika Menggantikan Bonanza...



Pada awal tahun 1970-an ketika televisi di rumah saya di kampung masih ditonton orang sekampung, penonton selalu mbludak pada saat penayangan film cowboy Bonanza. Ternyata bukan hanya di Indonesia, di negeri asalnya sendiri – Amerika – serial televisi tersebut juga sangat popular. Maka, mumpung mayoritas orang Amerika lagi di depan televisi – pada suatu malam di tanggal 15 Agustus 1971 – Presiden Amerika waktu itu Richard Nixon – muncul menggantikan episode Bonanza yang di tunggu-tunggu rakyat Amerika.

Pesan penting yang disampaikan Nixon waktu itu ternyata tidak hanya mengejutkan rakyat Amerika – tetapi juga mengguncang ekonomi dunia – sehingga sampai saat ini kejadian tersebut dikenal sebagai Nixon Shock – kejutan Nixon. Sejak saat itulah Dollar yang seharusnya bisa bebas ditukar kembali dengan emas dengan nilai tukar di kisaran US$ 35 – US$ 40 /Oz, menjadi tidak bebas lagi dan tidak ada lagi patokan nilai penukarannya. Pelepasan kaitan US$ dengan emas inilah yang kemudian merombak secara total tatanan keuangan dunia dan melambungkan harga emas hingga kini.

Selama 40 tahun sejak kaitan US$ dan emas dilepas, harga emas-pun melonjak sekitar 40 kali-nya yaitu dari US$ 35/Oz ke US$ 1,400/Oz. Namun bukan hanya kenaikan harga emas dalam jangka panjang ini saja yang diubah oleh kemunculan Nixon yang menggantikan Bonanza tersebut diatas, tetapi secara filosofi uang dunia telah berubah total dari sesuatu yang riil menjadi sesuatu yang semu.

Seolah seperti disengaja, sejak saat itu orang melihat US$ seperti melihat Bonanza atau serial televisi lainnya. Semua penonton tentu tahu bahwa apapun yang ditayangkan oleh televisi di film-film seperti Bonanza tersebut adalah sesuatu yang semu, rekaan semau-maunya oleh sang sutradara – namun tetap saja penonton begitu menikmatinya.

Maka demikian pula dengan US$ ( atau mata uang kertas lainnya), nilainya dengan mudah semau-mau-nya dimainkan oleh pemegang otoritas di masing-masing negeri, tetapi kita semua tetap begitu mempercayai dan menyukainya. Masyarakat dunia tahu bahwa the Fed-nya Amerika misalnya barusan mencetak uang dari awang-awang dengan istilah keren Quantitative Easing - yang berarti seluruh pemegang US$ dirugikan dengan daya beli yang menurun – sebagai ‘penonton’ tetap saja tidak ada yang protes dan tetap saja menikmatinya.

Yang lebih mendasar lagi, uang yang bernilai semu yang dijaman modern ini di trigger oleh Nixon Shock tesebut diatas – kini telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita – ikut-ikutan menjadi semu pula. Krisis 1997/1998 di Indonesia misalnya, telah tiba-tiba menciptakan keunggulan competitive yang semu bagi kita – karena tanpa pencapaian apapun – kita tiba-tiba bisa membalik dari defisit di neraca perdagangan menjadi surplus.

Petinggi-petinggi Amerika sampai presiden-nya sekalipun, tidak henti-hentinya menekan China agar menaikkan nilai tukar mata uangnya sehingga ekspor Amerika bisa meningkat dan impor dari China menurun. Sebaliknya China juga tidak dengan mudah mau menaikan nilai mata uang-nya karena bila ini dilakukan akan membunuh daya saing export-nya.

Dengan mata uang yang semu tersebut, daya saing export suatu negara yang seharusnya ditentukan oleh efisiensi industri, inovasi, competency , creativity dan lain sebagainya tereduksi fokusnya menjadi seolah hanya tergantung pada tinggi rendahnya nilai tukar mata uang negara yang bersangkutan.

Solusi yang semu tidak bisa menyelesaikan masalah yang riil, maka kita tidak harus terlena dengan tontonan ‘Bonanza’-nya Amerika. Bersama-sama sebagai bangsa kita harus secara riil berkarya yang unggul, membenahi segala macam peraturan yang menghambat usaha, menekan biaya produksi dengan inovasi dan bukan menekannya dengan ongkos buruh yang rendah.

Kalau toh nilai tukar Rupiah jatuh terhadap US$ ataupun sebaliknya meningkat tajam terhadap US$, janganlah tontonan ‘Bonanza’ ini menjadi fokus kita. Problem kemiskinan dan pengangguran kita adalah riil, maka hanya solusi riil yang kita butuhkan. Wa Allahu A’lam.

Di-update pada Senin, 15 November 2010 08:51 author : Muhaimin Iqbal

Kamis, 11 November 2010

Obama Pulang Kampung

”Sate..Bakso..enak ya!” Tentunya kata-kata ini akan selalu terngiang di telinga kita. Kata-kata yang keluar dari orang nomor satu di sebuah negara adidaya. Masih ada kata-kata lainnya, seperti ”Indonesia adalah bagian dari diri saya” atau ucapan ”Assalamualaikum” di awal dan di akhir pidatonya. Semuanya pasti memberikan kesan baik bagi beberapa kalangan (yang tentunya juga ada beberapa kalangan lainnya yang menganggap ucapan-ucapan itu hanya kamuflase untuk memikat dan mendapatkan simpatik).

Itulah realita yang kita lihat pada saat om Barry Obama ’pulang kampung’ ke Indonesia kemarin. Walaupun Jakarta harus macet karena beberapa ruas jalan ditutup dimana-mana, dan seluruh orang dari berbagai kalangan seperti dosen, pengusaha, pejabat tinggi, dokter, bidan, karyawan hingga mahasiswa dari berbagai daerah rela berjubel-jubel antri untuk masuk ke Gedung Balairung UI sejak pukul 7 pagi demi menyaksikan kuliah umum Obama,dan saya pribadi juga harus merasakan akibat yang disebut ”Obama’s Coming Unfairness” di tempat saya bekerja, namun kedatangannya membawa harapan yang besar bagi bangsa kita. Pidato yang memukau dengan isi yang memunculkan harapan baru bagi setiap orang yang mendengarkan, serta dikemas dengan tampilan yang mempesona membuat semua orang tidak ingin menoleh sedikitpun dari seni panggung yang dibawakan oleh orator ulung ini. Semoga apa yang disampaikan oleh om Barry kemarin dapat dia buktikan, dan dapat menjadi contoh teladan bagi pemimpin negara lainnya. Amiiin....

Fida Meilini
SEA’99

Kamis, 04 November 2010

Sebuah tulisan yang menyentuh dari guru, dosen, atasan, serta sekaligus orang tua bagi saya. Semoga dapat menjadi renungan bagi kita semua, bahwa kita harus bersiap-siap menghadapi masa depan Indonesia dan merubahnya menjadi lebih baik.
Fida Meilini - SEA'99


BERMAIN MATA DENGAN BENCANA (SINDO – 4 NOVEMBER 2010)
RHENALD KASALI

FLIRTING,menggoda atau bermain mata, dengan bencana tampaknya menjadi masalah serius bangsa ini. Bencana,sama seperti lalu lintas di perkotaan, tak pernah tuntas terselesaikan. Ia hanya baru bisa ditangani dengan baik bila manajemen, termasuk manajemen bencana, berada di tangan bangsa ini. Tanpa manajemen bencana Anda hanya akan menyaksikan hal yang sama datang berulang-ulang. Bencana seakan-akan selalu datang tiba-tiba dengan korban ratusan tewas tak dapat diselamatkan. Early warning system tidak bekerja dengan baik dan kalaupun ada selalu diabaikan. Seperti apakah manajemen bencana itu?

Before–During–After
Manajemen bencana terdiri atas tiga fase, yaitu sebelum, selama, dan setelah bencana.Bangsabangsa yang produktif,maju, dan peduli terhadap keselamatan warga negaranya akan fokus pada penanganan ketiganya. Sebaliknya, bangsa yang reaktif hanya fokus pada penanganan pascabencana, yaitu pemberian bantuan kesehatan dan makanan, pembersihan jenazah, penguburan massal,rekonstruksi, dan rehabilitasi. Bangsa-bangsa yang produktif bertindak proaktif dan sangat menghargai knowledge management. Mereka mempelajari tandatanda alam,perubahan-perubahan karakter alam dan cara-cara pencegahan sebelum bencana itu tiba. Berkebalikan dengan itu, bangsabangsa yang reaktif cenderung terlambat bergerak, saling menyalahkan; bukan mengedepankan solusi, melainkan hanya bermain dengan justifikasi. Mereka ini hanya bermain mata dengan bencana, sehingga bencana pun tergoda mendatangi dan mengeruk harta benda dan nyawa manusia. Selama bangsa ini hanya fokus pascabencana saja, hampir pasti hanya rasa frustrasi yang akan datang. Jumlah korban akan tetap sama besarnya.Citra sebagai bangsa yang maju sulit didapat.Jangankan respek, bantuan pun lamalama enggan datang.Nilai manusia yang rendah di mata negara sendiri akan juga diberlakukan rendah di dunia kerja. Lingkaran setan saling menyalahkan jelas harus dihapus hari ini juga. Jumlah korban hanya bisa diatasi jika early warning system hadir dan bekerja dengan baik, konstruksi-konstruksi baru untuk penyelamatan (defence contruction), contingency planning, dan rapid response. Hal seperti ini bisa dengan mudah dilihat di Aceh, tak lama BRR menjalankan tugasnya. Menara-menara penyelamatan dibangun di sejumlah titik, sehingga rakyat dengan cepat dapat dievakuasi pada radius yang dekat. Yang belum kita lihat sampai saat ini adalah mekanisme kerja cepat penanganan bencana. Penanganan ini harus bisa bersifat real-time. Saat bencana terjadi, saat itu juga bantuan tiba. Tidak boleh lagi ada alasan cuaca buruk, ombak tinggi, awan mendung, telekomunikasi terputus, kantor pemerintah daerah ikut terseret gelombang, keluarga aparat pemda ikut tertelan bencana atau alasan-alasan klasik seperti tidak adanya alat angkut yang memadai. Ayo, berpikirlah lebih maju. Kita hidup di tengah-tengah peradaban modern. Payung undangundang penyerahan dana dan bantuan yang bersifat real-time harus segera dibuat. Dalam keadaan darurat, dana tak boleh dijadikan alasan.Ia bisa digeser menjadi prioritas utama. Sekarang yang masih menjadi masalah adalah birokrasi. Saya kira birokrasi Indonesia belum sempat bertobat. Birokrasi jelas harus segera dirampingkan kalau kita ingin bisa segalanya serbacepat.

Persoalan Masyarakat
Manajemen bencana berhubungan erat dengan perilaku manusia. Harap maklum, tanpa pengetahuan yang memadai, manusia lebih banyak mengandalkan intuisi. Rakyat juga sering bermain mata dengan bencana. Manusia punya kecenderungan mengedepankan logika-logika bencana berdasarkan the best story, bukan the best facts. The best story bersifat emosional dan bias sehingga menyulitkan penanganan ke depan. The best story tampak pada bagaimana media mengalungkan simbol keagungan dan leadership pada Mbah Maridjan. Anda lihat sendiri,para pengamat politik dan scientist pun larut ke sana.Padahal kalau Anda kaji lebih rasional, Anda akan menemukan sebaliknya. Mbah Maridjan adalah simbol dari resistance to change dan kealpaan manusia membaca fakta karena latar belakang pendidikannya. Andaikan kearifan perubahan ada pada dirinya, dia tentu akan tetap eksis karena kata kuncinya adalah adaptif, bukan stay in resistance. Apa pun yang dilakukan manusia, bila tanpa manajemen bencana, akan selalu hadir human biases and distortion.Manusia bias karena pengalaman masa lalunya, potensi emosi, serta kealpaannya menghubungkan antara referensi yang dimiliki dengan situasi aktual di lapangan. Manusia cenderung berlebihan (overestimate) terhadap bencanabencana besar yang jarang datang, tetapi mengabaikan (underestimate) insiden-insiden kecil yang datang dan mudah dilupakan. Padahal, kejadian-kejadian kecil itu adalah sebuah ”warning system” yang diberikan alam demi kelestarian manusia. Anda mungkin masih ingat kejadian di Pantai Mai Khao,Thailand, yang dilanda bencana tsunami Desember 2004.Di pantai itu praktis tidak ada turis yang tewas. Padahal jumlah turis asing yang sedang berjemur di pantai sangat banyak. Pasalnya, seorang anak kecil berusia 10 tahun berhasil menyampaikan fakta kepada petugas dan orang tuanya saat ia menyaksikan tiba-tiba air di sepanjang bibir pantai berbuih, lalu airnya surut. Berbeda dengan yang saya dengar di tempat lain, anak ini segera berteriak dan lari diikuti orang tuanya, petugas hotel, dan turis-turis asing. Seminggu sebelumnya,di kelas geografinya, Tilly Smith, gadis berusia 10 tahun asal Inggris itu, baru saja belajar bahwa itulah pertanda tsunami. Di Aceh, ketika air laut tiba-tiba surut dan ratusan ikan menggelepar,para pelancong justru berlarian berebut mengejar ikan. Buat orang di Aceh dan Pukhet, tsunami tak pernah mereka lihat. Bagi mereka tsunami hanyalah mitos. Human biases. Dan terjadilah bencana.Mirip dengan apa yang mungkin ada di kepala Mbah Maridjan.

Aturan Prabencana
Akhirnya, hidup di lingkaran cincin api (ring of fire), mau tidak mau setiap anak Indonesia harus tahu bagaimana menyelamatkan bangsanya dari bencana dan membaca tanda-tanda bencana. Kendati demikian ada lima aturan yang perlu segera ditanamkan. Pertama,jauhkan sikap ”menggoda bencana” dengan kekuatan memahami risiko yang akan dihadapi. Meski datangnya bencanabencana besar di satu titik agak jarang (karena titik itu berpindahpindah), tapi sekali bencana datang probabilitas kerusakannya adalah 100%. Kedua, jangan biasakan menyangkal. Kebiasaan mempertentangkan intuisi dengan ramalanramalan akademik harus segera dijauhkan.Ketiga, bangun pusatpusat penyelamatan dalam bentuk menara-menara pengungsian yang dekat dengan pengungsian, jalan-jalan tembus yang lebar serta pemantauan yang tertata. Untuk daerah-daerah bencana, jelas akses masuk bantuan harus selalu ada dalam keadaan terawat baik. Keempat, beri perhatian pada sinyal-sinyal yang lemah, sekalipun jarang terjadi. Kelima, rampingkan birokrasi penyelamatan sekarang juga. Terakhir, jangan menunda-nunda kegiatan pemberian bantuan dengan alasan atau justifikasi apa pun. Terlepas dari itu semua, manajemen bencana bukanlah subject manajemen pencitraan. Ia murni merupakan anak dari manajemen kemanusiaan yang harus menjadi perhatian manusia dalam peradaban modern.(*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Kamis, 16 September 2010

Happy Eid Fitr 1431H

Segenap Blogger Sosektaers Unibraw dengan ini mengucapkan
Selamat Idul Fitri 1431 H
Mohon maaf lahir dan bathin jika ada kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak.
Semoga di era baru yang fitri ini kita dapat kembali terpacu untuk berkarya menunangkan kembali tulisan-tulisan yang bermutu.

Happy Sosektaers Unibraw

Post by
Luqman Setiawan

Jumat, 28 Mei 2010

Paid To Click,Neobux ,dan tantangan dunia baru

By Luqman Setiawan

Sambil isi kekosongan blog ini, kali ini saya cuma mau sharing ringan tentang sebuah program di dunia maya yang bernama pay per click yang secara harfiah berarti : kita dibayar atas klik link internet yang kita lakukan.

Salah satu website yang menjalankan program pay per click ini dan cukup sukses dibisnis ini adalah neobux yang saat ini usianya genap 3 tahun.

Bagi Sosektaers unibraw yang belum pernah mengenai betapa legitnya neobux,mari disimak keuntungan anda jika bergabung bersama neobux berikut ini :

Neobux adalah salah satu program PTC (Paid To Click), anda dibayar untuk setiap klik iklan yang anda lakukan di member akun anda di neobux

Anda dibayar $0.01 sampai $0.02 setiap iklan yang anda lihat di neobux

Anda hanya membutuhkan waktu 30 detik sampai 60 detik waktu yang dibutuhkan setiap iklannya di neobux ,bayangkan berapa lama anda tiap hari berhubungan dengan koneksi internet.

Tertarik?? registrasi disini(tidak diperkenankan register via ponsel)

Setelah anda registrasi, neobux akan mengkonfirmasi anda via email

Untuk bisa mendapatkan penghasilan dari Neobux,hanya membutuhkan komputer, koneksi internet dan sedikit waktu.

Cara login (masuk) dan mengklik iklan di Neobux :



Segera masuk kembali ke website NEOBUX (disini)

Klik Login, Pada hal login : isi username, password (sesuai proses registrasi) dan Verification code kemudian klik login

Pilih "view advertisements” pada kanan atas layar anda (pastikan anda sudah login)

# Kemudian klik iklannya & tunggu sampai selesai (iklan di klik satu persatu). Kemudian lanjutkan dengan mengklik iklan berikutnya, dst… Ada 3 iklan yg cara jawabnya : jika ada pilihan OK atau CANCELpada saat anda menutup iklan, pilih CANCEL, kemudian ulangi menutup iklan tersebut

Anda tidak di perbolehkan mendaftar lebih dari 1 (satu) ACCOUNT. Jika anda melakukannya anda akan di BANNED, anda tidak akan bisa lagi mendaftar dan registrasi di NEOBUX

RAHASIA SUKSES DI NEOBUX :
1. Tentunya harus register dulu di neobux disini
2. Rajin klik iklan setiap hari
3. Perbanyak Direct Reff dan Rent Reff
4. Kalo udah yakin, segera upgrade ke anggotaan anda

Semoga bermanfaat,jangan ragu untuk join di Neobux

Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan email ke :
luqman.setiawan@gmail.com

Great Day & Viva Sosektaers Unibraw !

Senin, 28 Desember 2009

Gaya (HIDUP)Instant ...

Posting by Luqman Setiawan

Madu dalam hidup ini,dan dikejar oleh banyak orang adalah gaya hidup yang serba instant.Mau apa aja tinggal remote sana remote sini.Susah nomor 2,yang penting hari ini kita dapet manisnya.Jangka pendek bisa senang-senang,jangka panjang ? biar anak cucu yang tanggung.Sepertinya pepatah yang dimantra waktu kita SD dulu "Berakit-rakit dahulu,berenang-renang ketepian; bersakit-sakit dahulu baru senang kemudian" sudah kehilangan pengikutnya di era digital yang penghuninya banyak yang sudah pada mabuk facebook ini.Truss ?

Saat transmigrasi "bedol desa" ortu buyut kita,Adam dan Hawa ke alam semesta yang bernama bumi ini,kehidupan negeri dongeng dengan gemerlap dan serba instant yang mereka temui di surga semestinya segera berakhir dan berganti dengan kerja nyata : memelihara,dan merawat alam semesta dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana titah sang Penguasa Langit dan bumi ;"Tidak aku ciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepadaKU".
Namun yang terjadi adalah, kerusakan bumi makin terkuak lebar karena hawa nafsu manusia untuk mewujudkan kenyamanan hidupnya secara berlebihan. Agar bisa nyaman dengan segala kemudahan,remote,dan serba instant.

Tidak ada larangan untuk menikmati hidup.Dengan gaya dan model seperti apapun.Yang penting untuk dicatat adalah apakah harga kenikmatan hidup yang kita bayar itu sepadan dengan aspek keadilan baik dari sisi kita,keluarga kita,lingkungan kita,termasuk keseimbangan alam sekitar kita.Apa jadinya kalo confortable zone yang kita kejar menabrak rambu2 dari keseimbangan diatas.Maka yang terjadi adalah kenikmatan kita saat ini dibayar mahal oleh generasi selanjutnya.Atau sama dengan,kita menyandera kehidupan selanjutnya ; bisa itu kehidupan kita sendiri apalagi kehidupan anak cucu generasi selanjutnya.

Oleh karena itu, realitas instant yang berkembang kian massif dewasa ini harus bisa kita sikapi dengan jernih. Agar kita tidak disandera oleh masa depan alih alih menjadi beban bagi generasi selanjutnya.
Bukankah kehadiran kita ini sebagai pemakmur bumi ? pemelihara ekosistem,penjaga keseimbangan tata alam.

Pilihan hiudp kembali pada kita.Mau instant ? mau berproses ?
Monggooo...

Jumat, 11 Desember 2009

Pidato seorang bocah yang mengguncang dunia

Posting by Luqman Setiawan

Kisah anak kecil bernama Severn Cullis-Suzuki ini barangkali dapat memberikan kita inspirasi betapa sudah waktunya yang tua banyak belajar dari kaum yang lebih muda dalam hal visi dan nilai tentang kehidupan itu sendiri.

Severn Suzuki pada usia 9 tahun telah mampu mengorganisir anak-anak sebayanya dan mendirikan organisasi bernama Environmental Children's Organization (ECO).ECO didirikan dan didedikasikan untuk belajar dan mengajarkan pada anak-anak lain mengenai masalah lingkungan.

Dalam Konferensi Lingkungan Hidup PBB, Severn,atas nama perwakilan ECO diundang untuk berbicara dalam forum tingkat tinggi yang dihadiri oleh pimpinan dunia,jusnalis dunia,dan pebisnis,dan tokoh-tokoh tingkat dunia lainnya.

Severn memberikan sebuah pidato yang kuat dan mampu membungkam para pemimpin dunia yang hadir dalam forum tersebut.

Apa sesungguhnya yang disampaikan oleh Severn yang pada waktu berpidato berusia 12 tahun sehingga mampu mengguncang dan menggegerkan ruang sidang ? Dan setelah pidatonya selesai, seluruh peserta berdiri memberikan tepung tangan penghormatan kepada seorang anak kecil berusia 12 tahun ?

Tanya kenapa ?

Berikut pidato dari Severn Cullis-Suzuki,bocah kencur berusia 12 tahun di forum tinggi PBB tentang Lingkungan Hidup ...

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental
Children Organization
Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12
dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga,
Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk
bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda
sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di
sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan
masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum
atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi
semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia
yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat
yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan
habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena
berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena
saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa
tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker.
Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu
persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar
binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan
burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal
tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini
ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap
bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua
pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki
semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa
anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai
asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang
telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di
tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak
tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota
perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah
ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi
- dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua
adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih
dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi
udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan
tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita
semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu
untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak
ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami
membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang.
Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi
dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk
kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan
dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda,
komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami
menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah
satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku
kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan
makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih
sayang " .

Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun,
bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih
begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia
sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan
yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari
anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak
yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau
pengemis di India .

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua
uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat
kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa
indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk
berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan
orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang
kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk
berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang
anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda
melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah
yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua
seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan
mengatakan, " Semuanya akan baik-baik saja , 'kami melakukan yang
terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari
segalanya.”

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut
kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda
semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena
perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari.
Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya
menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

*******

Sesaat setelah pidato Severn Cullis-Suzuki, Ketua PBB menyampaikan komentarnya sebagai berikut :

" Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri
karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan
isinya disekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju
berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato.
Sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh
asisten saya kemarin. Saya ... tidak kita semua dikalahkan oleh anak
yang berusia 12 tahun "

Semoga Sosektaers dapat mengambil manfaatnya, apalagi Sosektaers sebenarnya punya "kendaraan" organisasi bernama PERMASETA Unibraw dan bisa diarahkan untuk tujuan-tujuan yang baik dan bukan sekedar seremonial hura-hura semata.Sekali lagi.
SEMOGA.

Jumat, 04 Desember 2009

Koyo iyo iyo'o



Posting by Rachman Adi Saputra *

Judul diatas sebenarnya sebuah kalimat dari bahasa jawa (saya juga belum lama tau istilah ini), yang dapat diartikan seseorang yang seakan2 tahu padahal dia belum tentu tahu mengenai tersebut dan seolah2 ingin menunjukkan pada orang lain bahwa dia mengerti dan paham mengenai hal tersebut (kira2 begitu).
Saya tertarik mendiskusikan istilah tersebut karena kayaknya kita semua dalam beberapa bulan terakhir ini telah menjadi orang yang seakan-akan mengerti dengan jelas permasalahan dan langsung memutuskan hal terebut karena opini yang berkembang luas di masyarakat dengan dibantu peran media. Bagaimana dalam waktu yang berdekatan kita seolah-olah sudah dapat menemukan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam contoh kasus yang seakan-akan memiliki benang merah yaitu kasus ANTASARI, BIBIT & CANDRA, SUSNO dan BAILOUT BANK CENTURY. Saat ini kita sealah olah diajak menjadi ahli hukum dan ahli ekonomi. Bagaimana kita digiring oleh opini2 sehingga ribuan orang berdemo pada masing2 opini yang belum tentu mereka tahu kebenarannya bahkan satu juta orang melalui facebook mendukung suatu opini yang justru kita semua belum tahu kebenarannya. (walaupun kita tahu id di internet dapat dengan mudah digandakan)????? sehingga satu juta belum berarti satu juta.
Sebuah hal menarik terjadi pada saat terjadi diskusi Lawyer's club yang ditayangkan secara live di Tvone beberapa waktu yang lalu bagaimana seorang Karni Ilyas tidak dapat menjawab pertanyaan dari pengacara OC Kaligis mengenai pernahkah seorang Karni Ilyas melihat berkas-berkas perkara seperti lazimnya hal orang berperkara pada saat membahas kasus mengenai Bibit Candra yang diperdebatkan apakah perlu diteruskan ataukah harus di “deponering” (satu kata lagi yang baru saya ketahui). Satu bukti yang tentang judul diatas.
Artinya (ini saya yang mengartikan sendiri) adalah kita semua saat ini masih terus diberi informasi dengan sangat berlimpah dengan berbagai sudut pandang. Sehingga disatusisi dapat membuat hal yang sangat membingungkan buat masyarakat awam seperti kita. Berita saat ini menjadi komoditas yang sangat2 laku di jual dan menjadi suatu hal yang sangat ditunggu2 pemirsanya. Begitu berharganya Informasi sehingga pada suatu saat Murdoch merasa perlu membatasi berita-berita yang disadur oleh GOOGLE dan YAHOO!!!!!! secara gratis. Berita saat ini adalah komoditas.......!!!!!!! Saya jadi ingat dengan teman2 kita di CANOPY yang juga berkecimpung di media Pertanian (CANOPY)......gmn kabarnya teman2 seperti Slamet, Widya, Siti Asnah, dan lain2........yang mewartakan media dengan sepenuh hati.
Bagi saya saat ini adalah saatnya kita menyaring semua informasi yang ditampilkan oleh media-media yang bisa jadi memiliki suatu misi tertentu terhadap beritanya. Dan akan sangat mendukung media2 yang mencerdaskan pembacanya dan bukan memperkeruh suasana untuk meningkatkan oplahnya. Dan dengan membaca berita tidak membuat kita merasa semakin tahu dan menjadi orang seperti judul di atas.

Keluhan dan pengaduan terhadap tulisan ini
Silahkan hubungi :
email : sosektaers.ub@gmail.com

NB : Tulisan ini dibuat juga tidak berarti saya tidak mendukung siapa2.......

* Penulis adalah Angkatan 1996-Alumni Sosek Faperta Unibraw.
Deklarator (pendiri) Permaseta Unibraw (1999),organisator mahasiswa jurusan (1999)
perancang Liga Sosek,dan segudang kontribusi baik lainnya.

Kamis, 03 Desember 2009

PERATURAN TENTANG ALIH FUNGSI LAHAN

Posting by SAI*

Sebagai orang yg berlatar pendidikan pertanian dan kebetulan ditugaskan di Bali oleh perusahaan tempat bekerja sekarang. Ada satu hal menarik yang ada di Bali, yaitu mengenai peraturan pemerintah daerah yang mengatur wilayah hijau. Dimana ada perlindungan terhadap sawah-sawah di Bali agar tidak tergerus oleh investor pariwisata yg sangat massif di Bali, sehingga tidak terjadi konversi lahan yang sangat cepat akibat rakusnya investor untuk mencari lahan yg digunakan untuk membuat hotel, villa, dan perumahan-perumahan.

Di Bali saya merasakan pemerintah daerah sangat konsen menjaga agar tidak terjadi alih fungsi lahan terutama areal persawahan. Di setiap jalur hijau dipasang papan pengumuman yang menerangkan bahwa sepanjang sekian meter atau kilometer adalah jalur hijau, sehingga tidak boleh ada bangunan (rumah, toko, atau apapun) yang berdiri di jalur tersebut. Walaupun masih terjadi alih fungsi lahan, tetapi tidak seradikal alih fungsi lahan di Jawa atau daerah lain yang pemerintahnya sangat tidak konsen dalam menjaga alih fungsi lahan pertanian.

Sepanjang satu tahun saya di Bali untuk wilayah persawahan yang dipasang papan jalur hijau belum pernah saya lihat terjadi alih fungsi lahan pertanian. Asumsi saya adalah karena perda tersebut efektif dalam menjaga hilangnya areal persawahan. Dimana sawah disamping sebagai mata pencaharian juga sebagai tempat yang memiliki nilai budaya dan social.
Walaupun harga tanah di Bali sangat mahal (harganya sudah setara harga jakarata), tetapi Perda ini menurut pengamatan saya mampu menghalangi terjadinya transaksi jual beli areal persawahan. Dan perda ini efektif juga melindungi petani dari mata pencahariannya, karena jika lahan pertaniannya terjual, maka petani akan tercabut dari akar social budayanya yg bermatapencaharian petani.

Ketersediaan pangan sangat ditentukan oleh ketersediaan lahan. Karena hasil panen disamping ditentukan oleh intensifikasi juga ditentukan seberapa luas lahan yang dijadikan areal persawahan. Penambahan areal persawahan sangatlah tidak mudah karena pasti mengorbankan areal lain yg juga hijau dalam hal ini hutan yang sangat penting dalam menjaga iklim dan ekosistem.

Saya memiliki pemikiran bahwa entah 25 tahun lagi atau lebih negara yang menguasai pangan di dunia adalah negara yang memiliki posisi tawar lebih dibanding negara2 di dunia. Jadi langkah brilan seperti yang dilakukan Bali dengan memberikan PERDA jalur hijau untuk melindungi areal persawahan bisa diikuti oleh daerah lain. Sehingga kebutuhan pangan di Indonesia bisa terjaga dengan ketersedian lahan persawahan yg memadai, dan masyarakat bisa menjangkau harga pangan karena tidak perlu impor.

* Penulis adalah Alumni Sosektaers Unibraw (angkatan 1996),Pendiri PERMASETA, dan
sekarang sedang menikmati indahnya hidup sebagai pekerja migran di Bali.

Rabu, 02 Desember 2009

Elegi Cinta Terlarang dari Pyongyang ...

Posting by Luqman Setiawan

Kalau dunia pop Indonesia sempat bergema dengan hits kondang duo virgin lewat tembang lirih "Cinta Terlarang".lain ceritanya dengan nada sumbang yang baru saja tiba dari Pyongyang, ibu kota negeri tirani Korea Utara yang dinakhodai Kim Jong Ill.

Kabar buruk itu akhirnya tiba juga.Melalui pengumuman resmi pemerintah setempat, efektif berlaku mulai hari Senin,1 Desember 2009, negeri yang kaya akan musibah bencana alam beberapa tahun belakangan ini resmi memberlakukan pemotongan (sanering) nilai mata uangnya (won) sebesar 100 basis poin.Dalam sekejab 100 won (mata uang korea utara)menjadi 1 won mata uang mereka yang baru.Gilanya lagi, pemerintah membatasi penukaran uang yang dimiliki oleh rakyatnya. Per orang tidak boleh menukarkan lebih dari 100.000 won,belakangan di revisi menjadi maksimal 150.000 won penukaran per orang.Hal ini sama artinya dengan tidak berharganya kepemilikan uang ditangan masyarakat yang melebihi batasan maksimal yang ditoleransi pemerintah. Alias,uang ditangan mereka menjadi sampah dalam sekejap.

Harus diakui, Korea Utara dapat dikategorikan sebagai negeri yang kacau balau dalam segala bidang.Disempurnakan lagi dengan silih bergantinya musibah bencana alam.Tapi sekacau-kacaunya negeri komunis yang satu ini, nilai tukar mata uangnya terhadap dollar Amerika hanya terpaut : 1 USD = 135 Won versi valas resmi pemerintah,dan 1 USD = 2000 s/d 3000 Won versi pasar gelap yang menjamur di negeri itu. Artinya, sebelum sanering,nilai mata uangnya terhadap US Dollar kelihatan masih bernilai. Bandingkan dengan Indonesia yang kurs 1 USD nya saat ini setara dengan Rp 9,435 (kurs rerata hari ini).

Mengenai yang namanya Sanering ini,kisah Indonesia pernah mengalami masa pahit serupa dengan kasus Korea Utara saat ini.Kisah sedih tersebut merupakan klimaks dari periode perekonomian tragis tahun 1960 - 1965 dengan fakta-fakta fantastis : inflasi rata-rata tahunan 650 %, indeks biaya 438 %, indeks harga beras 824 %, tekstil 717 %, dan rupiah anjlok nilainya terhadap US$ tinggal 1/75 (satu per tujuh puluh lima) dari angka Rp 160/US$ menjadi Rp 120,000/US$.Karena pemerintah tidak punya pilihan lain dalam menyelamatkan nilai mata uangnya, maka pemerintah waktu itu (Bung Karno) mengeluarkan Penetapan Presiden (Penpres) No.27/1965 yang menjadikan Rp 1,000 (uang lama) menjadi Rp 1,- (uang baru).

Isu Sanering di Indonesia juga sempat dipertimbangkan oleh pemerintah pada puncak krisis 1997/1998 namun dengan berbagai kalkulasi maka kebijakan yang satu ini tidak diambil oleh pemerintah.Andaikan sanering jadi diambil pemerintah pada waktu krisis 1997/1998 tentu itu hal yang tidak terlalu mengejutkan bagi kita semua mengingat nilai nol yang berhasil dipotong oleh sanering tahun 1965, 32 tahun kemudian (1998)telah kembali lagi bertambah 3 nol dibelakangnya.Masih ingat waktu jaman kuliah saat baca buku-buku teks, seperti yang berjudul : "menggerakkan dan membangun petani" (AT Mosher) disitu ada ilustrasi (riil tahun 1971) indeks harga produk pertanian seperti 1 tongkol jagung yang harganya cuma 3-5 rupiah saja. Sekarang harga satu tongkol jagung ditingkat tengkulak Rp 3000 - Rp 5000 rupiah,atau bahkan sudah lebih.Wow,ajaib.Welcome back angka nol !

Pada akhirnya, kita harus berfikir ulang terkait rasa cinta dan sayang kita terhadap benda yang bernama uang. Karena cinta terhadap uang ternyata merupakan cinta yang salah, atau lebih tepatnya menjadi cinta terlarang.Karena uang yang beredar saat ini hanyalah timbangan nilai relatif terhadap suatu produk.Artinya yang esensial bukan uangnya tapi produknya.Bagaimana kalau penjual produk tidak mau ditukar produknya dengan uang yang kita pegang ?
Kejadian tersebut riil terjadi di Jerman tahun 1924,Zimbabwe 1998,dan sekarang Korea Utara.

Maka tidak heran jika futurolog kondang John Naisbit dalam rilis buku Megatrends menulis dengan tegas ; uang merupakan monopoli terakhir yang dimiliki oleh negara dan akan segera berakhir. Naisbit mencontohkan,petani di India yang menggunakan bawang putih sebagai medium pengganti uang sebagai salah satu indikator pudarnya monopoli negara.Naisbit memprediksikan bahwa uang negara akan berakhir digantikan dengan uang komoditas, barangkali ini menjadi indikasi sistem barter akan mereinkarnasi dalam wujudnya yang modern.

Karena itu, mumpung Rupiah masih cukup berharga untuk dapat ditukarkan dengan aneka produk yang ada disekitar kita maka alangkah berbahagianya anda yang berhasil menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai Rupiah yang kita terima dari Gaji / penghasilan usaha kita malah mengantarkan kita pada cinta terlarang.Karena "raga" dari uang kertas valas/rupiah yang kita pegang tidak setara dengan daya belinya yang terus merosot dimakan pencuri yang bernama inflasi hingga satu titik dimana uang kertas/valas menjadi kertas yang tidak lebih seharga kertas bekas (kiloan) sesuai fitrahnya.

Jadi, kalau raga-nya tidak dapat kita miliki jangan nekad menyimpannya di hati.
Seperti bait "Cinta Terlarang" duo virgin

Kau kan slalu tersimpan dihatiku
Meski ragamu tak dapat ku miliki
Jiwaku kan slalu bersamamu
Meski kau tercipta bukan untukku

Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi
Hanya untuk bersamanya
Ku mencintainya sungguh mencintainya ...

Senin, 30 November 2009

Viva 10 thn PERMASETA,HOW LONG CAN YOU GO ?



Posting by Luqman Setiawan

Malam ini tepat 10 tahun organisasi bernama Perhimpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (PERMASETA) Universitas Brawijaya Malang menapaki dekade pertamanya.Bak manusia,usia 10 tahun adalah usia emas dalam meraih sebanyak-banyaknya norma kehidupan demi kesempurnaan hidup di puncak usia kelak.Setidaknya ada 5 catatan penting yang dapat kita kaji dan renungkan kembali dalam meningkatkan nilai organisasi yang lebih baik lagi.
posting kali ini merupakan bagian lain dari posting saya tentang PERMASETA yang pernah di muat
di blog sosek96

Pertama,Deklarasi PERMASETA ; perwujudan sikap profesional yang skeptis,kritis,dan taat asas

Perbedaan mendasar antara organisasi PERMASETA dengan nenek moyang pendahulunya (HIMASEP) adalah kelahirannya yang ditandai dengan Deklarasi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian yang menekankan akan pentingnya berdiri tegak dalam kerangka profesionalisme yang teguh menjaga jarak dengan puncak puncak kekuasaan negara. Skeptis dalam memandang setiap fenomena yang terjadi di masyarakat seraya konsisten menempatkan sikap kritis,dengan berlandaskan ketaatan terhadap asas dan norma yang berlaku di masyarakat.

Kedua,Komitment PERMASETA terhadap anggota sebagai asset yang utuh dan memberi manfaat secara menyeluruh.

Pendirian organisasi PERMASETA dilandasi pada komitment yang utuh bahwa sepanjang organisasi berdiri akan terus melibatkan sepenuh dan segenap aspek sumberdaya manusia yang tergabung dalam organisasi.Dalam kerangka itulah dibangun satu platform yang utuh sistem kaderisasi yang memungkinkan proses transfer nilai dan penguatan keilmuan anggota menjadi kekuatan praktis yang kredibel sebagai kekuatan yang inheren dalam terjun ke masyarakat.

Ketiga,Eksistensi PERMASETA adalah solusi kesetaraan,kebersamaan,penghargaan terhadap sesama

Kelahiran PERMASETA merupakan titik balik dari berakhirnya era hegemoni dan anti kesetaraan yang mengecilkan peran mayoritas mahasiswa sebagai intelektual yang berdiri didalam kerangka kesetaraan,kebersamaan,dan penghargaan terhadap sesama.
setiap anggota memiliki hak dan kewajiban yang sepadan tanpa dibedakan oleh latar belakang institusionalisasi tertentu.

Keempat,Realisasi tujuan organisasi PERMASETA adalah aktualisasi yang aktif,dinamis, dan progresif


Berdirinya PERMASETA didasarkan atas pemahaman bahwa tujuan organisasi yang ditetapkan merupakan sesuatu yang aktif,dinamis dan progresif.karena itu merealisasikan program organisasi sebagai sebuah seremoni dan rutinitas bukan saja melecehkan semangat pendirian organisasi tetapi juga mengkerdilkan kekuatan dan potensi riil organisasi.

Kelima,Dimensi Praktis PERMASETA inheren dalam kerangka amal ilmiah,ilmu amaliah

Semangat pendirian PERMASETA dikukuhkan dalam koridor aktualisasi amal ilmiah,ilmu amaliah yang mengandung arti bahwa organisasi adalah medium anggota dalam menerapkan teks keilmuan yang diperoleh di bangku kuliah menjadi serangkaian praktik nyata dan memberikan manfaat nyata dalam kehidupan masyarakat.

Kesimpulan

Program kerja,dan tata kepengelolaan organisasi PERMASETA yang bertentangan dengan kelima semangat pendirian organisasi bukan saja mengingkari komitment pendirian organisasi, melainkan juga mematikan sistem tata kelola organisasi itu sendiri.


Bergerak lebih maju,dan lebih baik
Viva 10 Tahun PERMASETA, HOW LONG CAN YOU GO ???

Minggu, 29 November 2009

GERAKAN MASSA FB MANIA

GERAKAN MASSA FB MANIA

Ada kejadian yang tidak lazim dalam gerakan massa yg terjadi akhir2 ini. Yaitu gerakan popular massa virtual yang mengangkat issue yg berkaitan social kemasyarakatan dengan memanfaatkan teknologi informasi yang sebenarnya belum teruji efektivitasnya di Indonesia. Yaitu pengorganisasian massa melalui Face Book yang mengangkat issue ketidakberesan kasus penyidikan Bibit-Chandra. Ternyata hal ini membuat keder juga pemerintah SBY, walaupun sebenarnya yg membuat keder SBY adalah pemutaran rekaman di MK yg secara gamblang mengungkapkan ketidak beresan dalam system hokum dan peradilan di Indonesia. Hal diatas seakan menjadikan tesis bahwa pengorganisasian via FB seakan efektif untuk menjadi gerakan yang massif dan mungkin bisa bersifat radikal.

Fenomena berikutnya adalah mulai banyak issue yg diangkat oleh para FB mania untuk mendapatkan dukungan dan kontra dukungan terhadap suatu kasus. Pengorganisasian via Face Book cukup unik walaupun disitu tidak ada proses pengkaderan dan ideologisasi yg terstruktur dan tersistematika dengan baik. Sehingga gerakan via FB pun langsung mati suri ketika kasus Bibit dan Chandra selesai. Pengorganisasian dengan cara popular menurut saya bisa taktis untuk mencapai tujuan jangka pendek. Karena menciptakan sentimen irasionalitas dalam benak masyarakat yg secara sosiologis masyarakat kita mudah terbakar dan mudah padam.

Sebenarnya hal ini mudah terlihat ketika gerakan via FB yg jumlahnya sudah tembus 1 jt mau mengadakan aksi besar2an di bunderan HI. Ternyata yang hadir hanya berjumlah ratusan. Gerakan ini cukup cerdik dengan memanfaatkan teknologi IT dan Media Massa yang meliput aksi ini. Sehingga isue yang diangkat bisa didengar dan ditangkap oleh semua lapisan masyarakat di Indonesia walaupun saya yakin yang menonton aksi itu di tv tdk sampai 1 jt orang. Berbeda dengan rekaman yang didengarkan oleh MK yang saya yakin didengar oleh hampir seluruh rakyat Indonesia.

Sebagai orang yang memahami cara pengorganisasian, saya merasakan ada suatu lompatan kuantum dalam hal menggerakkan massa di Indonesia, walaupun sebenarnya cara ini sudah dipakai oleh Obama dalam memenangkan Pilpres USA. Lompatan dari gerakan massa riil ke gerakan massa virtual. Ternyata militansi saja tidak cukup tapi harus cerdik dalam menggunakan media untuk tercapainya tujuan taktis. Untuk tujuan strategis saya tidak yakin dengan media ini.

Dan saya ucapkan selamat datang gerakan massa virtual di negeri ini..

SAI 96

Sabtu, 28 November 2009

Industri Kreatif, APA KABARMU ????

Posting by Luqman Setiawan

Barangkali kalo ada kompetisi ironi sejarah bangsa-bangsa modern, Indonesia akan masuk didalam deret nomor wahid. Bagaimana tidak, negeri yang kaya akan sumberdaya alam di darat dan laut baik yang nampak maupun yang terkandung dalam perut bumi nyata kurang termanfaatkan bagi kemaslahatan manusia yang berdiam didalamnya.

Pada pertengahan era 80-an, negeri ini cukup manis untuk mampu swasembada beras. Berbanding terbalik dengan tahun-tahun belakangan ini yang ketersediaan stock-nya harus "diganjal" oleh supply import.

Gandum yang sepanjang sejarah peradaban sosial masyarakat tidak dikenal sebagai bahan pokok harus di import demi memenuhi hajat hidup perubahan perilaku masyarakat yang mengandalkan mie instan untuk menopang ketersediaan konsumsi rumah tangga.

Aneka ragam sumberdaya tambang, yang mestinya lebih daripada cukup untuk dinikmati oleh seluruh rakyat negeri ini malah jauh dari maslahat yang diharapkan.

Minyak bumi ? yang pada era 70 an kita surplus dan banyak menopang pembangunan negara,nyatanya kini menjadi minus..dan merubah status kita dari eksportir minyak menjadi importir..

Aneh memang, sekedar ilustrasi, Indonesia secara matematis masuk top 10 eksportir emas dunia, faktanya dalam top 30 saja negeri ini tidak tercatat dalam daftar eksportir. Lebih aneh lagi, Singapura yang jelas tidak punya tambang emas malah tercatat masuk dalam top 10 besar eksportir emas dunia.

Tidak bermaksud untuk bicara data dan statistik, hanya ingin sekedar bertanya saja sebenarnya ada apa dengan kita semua ?

Terlihat di sini salah satu problem paling mendasar dari kita semua adalah miskinnya kreatifitas dan kesadaran untuk maju. Untuk lebih baik lagi.

Negara tandus seperti korea, negara ancur dan miskin sumberdaya (pasca kalah perang) jepang, negara darurat militer taiwan (sepanjang waktu dalam tekanan RRC),yang nyata mereka secara material jauh dibawah kita. Faktanya secara tingkat ekonomi jauh melampaui kita : kemana-mana. Karena mereka sadar tidak ada yang bisa mereka andalkan selain berjuang memecah dan memeras otak menciptakan produk kreatif yang bisa di eksport agar mereka bisa hidup layak sebagai sebuah bangsa.

Belajar dari bangsa-bangsa lain,kreatifitas bangsa ini memang menjadi satu tantangan tersendiri.
Ini PR bukan saja buat negara, tapi buat kita semua.

Kenapa kaum terpelajarnya lebih nyaman pilih jadi pamong praja atau masuk idustri kerja daripada jadi raja diatas kakinya sendiri ?
Lebih enjoy punya job title, ketimpang name title dengan brand nama sendiri ?
Lebih suka lari dari realitas dengan rutinitas ketimbang belajar berbuat ?

Karena kreatifitas bukan (atau belum ?) menjadi bagian dari budaya kita.
Industri kreatif yang ber basis rumahan meski dewasa ini sedang galak2nya di sosialisasikan oleh kementerian tertentu, jauh panggang dari api.
Tanpa ada kemauan mendorong industri kreatif di negeri ini,maka jangan harap bangsa ini mampu bertahan sebagaimana layaknya suatu bangsa.

Industri kreatif, APA KABARMU ?

*Note :
Salute buat mas Rachman dan mbak Uun yang sudah merintis industri kreatif rumahmanikku

Kamis, 26 November 2009

Nick Vujicic, Sang Motivator dan Inspirator

Ketika saya dan suami mengikuti acara CPW (Core Person Weekend) di Wonosalam, Jombang pada awal bulan November lalu. Salah satu pembicara yaitu, Ibu Yunita menyampaikan materi tentang sikap. Disela-sela penyampaian materi tersebut, beliau menayangkan video dengan durasi pendek.

Video tersebut menampilkan Nick Vujicic, seorang pria berusia 26 tahun yang menjalankan hidupnya dengan sempurna.

Awal dari video tersebut, hanya terlihat raut wajah Nick Vujicic yang bersemangat sambil memperkenalkan diri dihadapan kamera.

Semula, saya pribadi begitu terpesona melihat wajahnya yang menarik dan tersenyum. Namun, ketika sorot kamera mengarahkan ke seluruh tubuhnya, saya sempat terenyuh melihatnya.

Nick Vujicic, seorang pria yang menginspirasi banyak orang di dunia ini untuk selalu bersikap positif dan terus berani menghadapi kehidupan ini, ternyata tidak memiliki kesempurnaan pada fisik tubuhnya yaitu tidak mempunyai tangan dan kaki sejak lahir.

Sejenak saya tertegun. Nick Vujicic memang orang yang sangat luar biasa. Dalam ketidaksempurnaan fisik yang ia miliki, tapi ia mampu memberi inspirasi dan semangat kepada orang lain yang memiliki fisik lebih sempurna dari nya.

Dalam video tersebut di perlihatkan kehidupan sehari-hari yang dijalani Nick Vujicic.Mulai dia bangun tidur,melakukan aktifitas di kamar mandi,mengenakan pakaian,sampai mengisi kegiatan hari itu. Ia lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Padahal ia tidak memiliki tangan ataupun kaki seperti orang lain. Namun wajahnya tetap bersemangat.

Di session lain, di tunjukkan beberapa album foto Nick dari bayi sampai dewasa, yang semuanya menggambarkan bahwa Nick benar-benar menghargai kehidupan ini dengan penuh semangat dan antusias.

Namun ada pula session selanjutnya di video tersebut, terlihat Nick pun mengungkapkan bahwa ia pun pernah merasakan saat down,namun hal itu tidak menjadi penghalang baginya untuk terus bangkit dan maju.

Tapi yang paling menyentuh adalah session video pada saat Nick dengan segala kesederhanaan yang ia miliki memberikan motivasi kepada para siswa sekolahan yang hadir untuk bertemu dengannya. Nick dengan penuh kesungguhan memberikan motivasi yang sangat membekas dihati para siswa tersebut.

Nick,mungkin hanya pria biasa dengan kekurangan fisik. Namun dengan keadaannya tersebut, tidak membuat dia minder ataupun putus asa menghadapi dunia ini. Bahkan Nick mampu menunjukkan kepada dunia siapa dirinya sekaligus menjadi inspirasi bagi setiap orang untuk tidak pernah menyerah dalam menghadapi kehidupan. Dunia ini begitu indah untuk diisi hal-hal yang positif dan bermanfaat.

Sobat,belajar kisah Nick Vujicic ini,permasalahan SIKAPdan PIKIRAN adalah hal yang paling inti dan penting dalam hal ini. SIKAP dan PIKIRAN seorang Nick memang sangat luar biasa. Dari semua keterbatasan fisik yang ia miliki, ia mampu bersikap dan berfikir positif menghadapinya, dan bahkan ia mampu merubahnya sebagai sumber kekuatan dalam hidupnya.
Pertanyaan saya sangatlah sederhana pada diri saya sendiri dan para sobat? Apakah selama ini kita dapat mampu ber SIKAP dan BERFIKIR Positif dalam menghadapi semua hal yang terjadi dalam hidup kita? Bahkan bila hal yang terjadi tersebut benar-benar merontokkan semangat kita dan membuat kita terpuruk serta merasa bahwa tidak ada jalan untuk menghadapi itu semua selain menyerahkan nasib.

Melihat sosok Nick dengan penuh aura positif yang dimilikinya, membuat kita harus intropeksi diri kembali. Tanpa kita sadari, begitu banyak anugrah yang diberikan Tuhan kepada kita. Termasuk kesempurnaan fisik yang tidak dimiliki oleh Nick. Tapi mengapa perasaan bersyukur dan sikap positif Nick malah lebih bermakna dari pada kita? Terlebih ia bisa begitu banyak menginspirasi dan membangkitkan semangat orang lain.

Well sobat. Semua memang tergantung dari SIKAP dan PIKIRAN kita masing-masing. Bila kita selalu belajar bersikap dan berfikir positif, maka hal-hal positif pula lah yang akhirnya dapat kita tarik. Sedikit mengambil intisari dari buku The Secret tentang law of atraction atau hukum tarik menarik. Saya jadi ingat satu pesan orangtua terdahulu agar kita selalu bersikap dan berfikir positif. Ya..,karena dengan begitu kita akan menarik hal-hal positif kepada diri kita.

Karena itulah sobat.., tariklah hal-hal yang positif disekitar kita. Buang jauh-jauh hal-hal negatif ke laut aje :)

Nick mengajarkan banyak hal pada saya pribadi dan semua orang tentunya. Tidak hanya ttg sikap dan berfikiran positif saja. Tetapi tentang arti semangat dan perjuangan hidup yang ia di wujudkan melalui kehidupan yang ia jalani dengan penuh rasa syukur dan menginspirasi banyak orang untuk berubah lebih positif dan baik.... :)

Thanks to Nick Vujicic
And thanks to Bu Yunita atas materinya di CPW sehingga muncul video ttg Nick Vujicic ini...

Wonosalam - Bontang
November 2009